Konfercab IX PWI Tanggamus, Wakil Bupati Ajak Pers Jaga Profesionalisme dan Independensi

MATA TINTA RAKYAT.COM                            TANGGAMUS – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Tanggamus menggelar Konferensi Cabang (Konfercab) ke-IX di Gedung Serbaguna Komplek Islamic Center Kotaagung, Kamis (9/10/2025).

 

Acara tersebut dihadiri Wakil Bupati Tanggamus Agus Suranto, jajaran Forkopimda, dan sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD). Hadir pula Ketua PWI Provinsi Lampung Wirahadikusumah, Sekretaris PWI Lampung Andi Panjaitan, serta Ketua PWI Tanggamus M. Irwan bersama jajaran pengurus.

 

Pers Pilar Demokrasi

 

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Agus Suranto menyampaikan bahwa sejak lahirnya Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999, dunia pers Indonesia berkembang pesat dan menjadi bagian penting dalam kehidupan demokrasi.

 

“Pers merupakan pilar keempat setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Karena itu, pers diharapkan mampu memberi kontribusi positif bagi kemajuan daerah serta menciptakan pemerintahan yang demokratis,” ujar Agus.

 

Ia menegaskan, media massa juga memiliki peran strategis dalam menangkal penyebaran hoaks dengan menyajikan informasi yang benar, berimbang, dan sesuai fakta.

 

“Pers harus profesional dan independen. Media harus berpihak pada kebenaran dan kepentingan rakyat, bukan pada kepentingan tertentu,” tegasnya.

 

Agus berharap, melalui Konfercab ke-IX ini, PWI Tanggamus dapat melahirkan kepengurusan yang semakin profesional, solid, dan bermartabat, sehingga mampu memberi kontribusi nyata bagi pembangunan daerah.

 

“Selamat melaksanakan konferensi. Semoga hasilnya membawa manfaat bagi keluarga besar PWI dan masyarakat Kabupaten Tanggamus,” tutupnya.

 

Wira: Pers Adalah Saudara Bungsu Demokrasi

 

Sementara itu, Ketua PWI Provinsi Lampung Wirahadikusumah dalam sambutannya menyampaikan pandangan filosofis tentang posisi pers dalam sistem demokrasi Indonesia.

 

Menurutnya, pers sering disebut sebagai pilar keempat demokrasi, berdampingan dengan eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Namun, secara nyata, pers justru menjadi “saudara bungsu” yang sering terlupakan.

 

“Pers, eksekutif, legislatif, dan yudikatif itu ibarat empat bersaudara. Ayahnya adalah NKRI, ibunya Ibu Pertiwi. Tapi nasib si bungsu, yaitu Pers, sering berbeda. Pers tetap menjaga independensinya karena tidak dibiayai oleh negara maupun APBD,” kata Wira.

 

Ia menyoroti bahwa saat ini banyak media dan jurnalis menghadapi tantangan berat di tengah gempuran era digital dan menurunnya dukungan terhadap media konvensional.

 

“Pers sedang tidak baik-baik saja. Kami berharap tiga saudara kami — eksekutif, legislatif, dan yudikatif — tidak tega membiarkan Pers berjalan sendiri di tengah perubahan besar ini,” ungkapnya.

 

Wira menambahkan, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di dunia pers tidak bisa dilakukan sendirian. Ia mengajak semua pihak untuk memperkuat kolaborasi agar insan pers tetap mampu menjalankan fungsinya secara profesional dan independen.

 

“Kami butuh dukungan. Jangan biarkan pilar keempat demokrasi ini terlunta-lunta di tengah arus digital,” pungkasnya.

(Tomson/MTR).

Tinggalkan Balasan